Jenis
Genitri:
Ganitri,
Genitri/Jenitri (Elaeocarpus sphaericus Schum)
ELAEOCARPUS
GANITRUS ROXB, Efaeocarpus angustifolta Bl.; E. cyanocarpa Maing.;E.
sphaerica Shcum. ; Ganitrus sphaerocarpaAda tiga macam jenis ganitri dan 4 jenis agak berlainan yang
dinamai Katulampa.
Klasifikasi
|
|
Divisi
|
Spermatophyta
|
Subdivisi
|
Angiospermae
|
Kelas
|
Dicotyledoneae
|
Bangsa
|
Malvales
|
Family/Suku
|
Elaeocarpaceae
|
Marga
|
Elaeocarpus
|
Jenis
|
Spermatophyta
|
Jenis
|
Umur produksi
perdana
|
Tinggi menurut umur
|
Kelas hasil
|
varietas lokal
|
4 tahun
|
Batang tinggi 6-7
tahun – 10-15 meter
|
biji kelas 1- 9
|
varietas super
|
2 tahun
berproduksi
|
Batang lebih pendek
4 tahun 4 meter
|
biji kelas 1- 9
|
Morfologi:
1.
Batang pohon Ketinggian dapat mencapai 25-30 meter (di India)
dengan batang tegak dan bulat berwarna cokelat. Sepanjang tepi daunnya
bergerigi dan meruncing di bagian ujung. Umur 4 tahun mencapai tinggi 4 meter
2.
Daun, lanset, tangkai 2-12 mm; pangkal helaian beralih demi
sedikit menjadi tangkai, 6-18 x 2-6 cm, akhirnya gundul, seperti kulit,
bergerigi beringgit tidak dalam, berbintik hitam, 10-15 tulang daun samping
pada kedua belah sisi dari tulang daun utama.
3.
Tangkai bunga ±0,5 cm; daun kelopak bulat telur memanjang,
runcing, hijau pucat atau kemerahan, dari luar berambut; daun mahkota kuning
atau putih kehijauan, ke atas tidak melebar, panjang ±1,3 cm. Tonjolan dasar
bunga berambut kasar, bakal buah bentuk telur, berambut rapat; kepala putik
tidak melebar.
4.
Buah, bentuk bola, boleh dikatakan gundul, warna biru tua,
diameter ±0,5 cm sd 2 cm.
5.
Biji-biji ganitri keras dan awet (bisa bertahan 8 generasi)
6.
Ukuran dan Setiap biji memiliki jumlah lekukan atau mukhis
berbeda. Jumlahnya bervariasi mulai dari 1 hingga 21 mukhis
7.
Ada biji yang
dempet 2
8.
Ada biji yang tidak
beraturan (lonjong, tidak bulat)
Habitus
|
Elaeocarpus ganitrus Roxb. Jenetri
|
Batang
|
Pohon, tinggi 25-30 m. Tegak,
berkayu, bulat, percabangan simpodial,kasar, coklat
|
Daun
|
Tunggal, tersebar, lonjong, tepi
bergerigi, ujungmeruncing, pangkal runcing, panjang 8-20 cm, lebar3-6 cm,
bertangkai pendek, pertuiangan menyirip,hijau.
|
Bunga
|
Majemuk, bentuk malai, di ketiak
daun, kelopak lonjong, berbagi, berambut, hijau pucat, mahkota bentuk
lonceng, bercangap, kuning.
|
Buah
|
Buni, bulat, diameter ± 2 cm, hijau.
|
Biji
|
Bulat, diameter ±0,5 cm -2 cm, coklat
muda – tua.
|
Akar
|
Tunggang, putih kotor.
|
Komposisi
kimia ganitri
1.
karbon (C)
50,024%,
2.
hidrogen (H)
17,798%,
3.
nitrogen (N)
0,9461%, dan
4.
oksigen (O2)
30,4531%.
5.
elemen mikro:
aluminum (al), kalsium (Ca), klorin, tembaga (Cu), kobalt, nikel (Ni) , besi
(Fe), magnesium (Mg), mangan (Mn), dan fosfor (F)
6.
glikosida, steroid,
alkaloid, dan flavonoid yang terkandung dalam ganitri melindungi paru-paru
(anti bakteri)
Komposisi
fisika ganitri
1.
Memiliki nilai
spesifik gravitasi sebesar 1,2 dengan pH 4,48 (riset Institut Teknologi India)
2.
Daya
elektromagnetik sebesar 10.000 gauss pada keseimbangan Faraday, hasil konduksi
elektron alkalin. Gara-gara itulah ganitri dipercaya mengontrol tekanan darah,
stres, serta berbagai penyakit mental.
Ganitri juga dipercaya menyembuhkan epilepsi, asma, hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati. Ia berguna saat dikalungkan di leher ataupun diminum air rebusan.
Ganitri juga dipercaya menyembuhkan epilepsi, asma, hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati. Ia berguna saat dikalungkan di leher ataupun diminum air rebusan.
Manfaat:Lingkungan
1.
Menurunkan tingkat
pencemaran atau pengisap polutan (Dwiarum Setyoningtyas dari Sekolah Ilmu dan
Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung). Ia membandingkan konsentrasi gas
sulfur oksida, nitrogen oksida, dan karbon monoksida dalam kotak kaca berisi
tumbuhan ganatri dengan kotak tanpa tumbuhan. Ke dalam kedua kotak kaca
diembuskan emisi gas buang dari hasil pembakaran tiga jenis bahan bakar yang
memiliki kandungan biodiesel yang berbeda. Yaitu 10% biodiesel (B-10), 5%
biodiesel (B-5), dan 0% biodiesel (B-0) sebagai pembanding. Hasilnya, tingkat
pencemaran dari ketiga jenis emisi bahan bakar dalam kotak kaca berisi ganitri
tercatat lebih rendah (sulfur oksida 0,81 ? 0,38 ppm, nitrogen oksida 0,49 ?
0,01 ppm, dan karbon monoksida 1,36 ? 0,71 ppm). Bandingkan dengan kotak kaca
tanpa ganitri yang pencemarannya lebih tinggi. Untuk ke-3 zat kimia itu
masing-masing 5,15 ? 1,77 ppm, 0,75 ? 0,15 ppm, dan 2,34 ? 1,36 ppm.
2.
Pohon pelindung di
sepanjang jalan Bandung-Lembang. (Eka Budianta).
3.
Tanaman penghijauan
hutan kota.
4.
Sumber makanan
bermacam-macam binatang.
5.
Daun, kulit batang
dan buah jenitri mengandung polifenol,
6.
Daun dan kulit
batangnya mengandung saponin.
Kesehatan:
1.
Menghilangkan
stres. Itu dibuktikan oleh Dr Suhas Roy dari Benaras Hindu University.
2.
Mengatur aktivitas
otak yang mengarah pada kesehatan tubuh (Penelitiannya di Amerika) biji ganitri
mengirimkan sinyal secara beraturan ke jantung ketika digunakan sebagai kalung.
3.
Menenangkan otak
dan menghasilkan pikiran positif (sifat kimia dan fisik memberikan Efek
Induksi listrik, kapasitansi listrik, pergerakan listrik, dan elektromagnetik ,
Karena itu biji ganitri mempengaruhi sistem otak pusat saat menyebarkan
rangsangan bioelektrokimia. Mengandung elemen mikro: aluminum, kalsium, klorin,
tembaga, kobalt, nikel, besi, magnesium, mangan, dan fosfor.
4.
Melindungi
paru-paru (anti bakteri) karena mengandung glikosida, steroid, alkaloid, dan
flavonoid. pelindung tubuh dari bakteri, kanker, dan pembengkakan. efektif
meredam hipertensi dan menghasilkan perasaan tenang dan damai. Dalam 7 hari,
tekanan darah turun bila dibarengi dengan mengalungkan ganitri di leher. (Singh
RK dari Departemen Farmakologi, Banaras Hindu University). Ia menggunakan
berbagai larutan seperti petroleum eter, benzena, kloroform, asetone, dan
etanol untuk melarutkan 200 mg/kg buah ganitri kering. Larutan ganitri hasil
perendaman selama 30-45 menit itu menunjukkan sifat anti pembengkakan radang
akut dan nonakut pada tikus yang dilukai.
5.
menghilangkan sakit
kepala alias antidepresan dan antiborok pada tikus terinjeksi. Duduk perkaranya
karena glikosida, steroid, alkaloid, dan flavonoid yang terkandung dalam
ganitri melindungi paru-paru. Keempat zat organik itu juga bersifat
antibakteri. Terhitung 28 jenis bakteri gram positif dan negatif enyah oleh
ekstrak ganitri antara lain Salmonella typhimurium, Morganella morganii,
Plesiomonas shigelloides, Shigella flexnerii, dan Shigela sonneii.
6.
Mengontrol tekanan
darah, stres, serta berbagai penyakit mental, epilepsi, asma, meredam
hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati karena memiliki daya
elektromagnetik sebesar 10.000 gauss pada keseimbangan Faraday, hasil konduksi
elektron alkalin. Ia berguna saat dikalungkan di leher ataupun diminum air
rebusan saat perut kosong.
7.
Meluruhkan lemak
badan.Senyawa alkaloid yang terkandung dalam ganitri:
pseudoepi-isoelaeocarpilin, rudrakine, elaeocarpine, isoelaeocarpine, dan
elaeocarpiline (A B. Ray dari Department of Medicinal Chemistry, Banaras Hindu
University, India),Caranya, 25 gram buah Elaeocarpus ganitrus kering, dicuci
dan direbus dalam 1 gelas air sampai air rebusan tersisa separuh. Setelah air
rebusan dingin, saring, lalu minum sekaligus.
8.
Buah jenitri
berkhasiat untuk peluruh lemak badan
Peralatan Ibadah:
1.
Inti bijinya
dipakai untuk membuat rantai, kalung, buah baju, dsb (Steenis, 1975).
2.
Alat ‘hitung’ dalam
berdoa laiknya tasbih bagi kaum Muslim atau rosario bagi umat Nasrani
3.
Sebagai Mala
masyarakat Hindu Bali
Lain-lain:
1.
Bahan penyamak
kulit.
2.
Sebagai souveneer
3.
Uji praklinis yang
melibatkan babi sebagai satwa percobaan, membuktikan ganitri mencegah kerusakan
paru-paru. Sebelumnya, babi diinduksi pemicu luka, histamin, dan asetilkoline
aerosol. Meski diberi zat perusak paru-paru, organ pernapasan babi-babi itu
tetap baik.
Nilai ekonomis:
Penanaman:
1.
Harga bibit ukuran 30 cm Rp 50.000,- – Rp
100.000,- (Varietas super umur 2 tahun panen (4 tahun tinggi 4 meter),
menghasilkan biji dengan kelas 1-9), (Varietas lokal umur 6-7 tahun tinggi
10-15 meter)
2.
Jarak tanam 6 m x 6 m, populasi ganitri di lahan
1 ha maksimal 278 pohon.
3.
Bulan Panen Januari- Februari (di Jawa Tengah)
4.
Pemeliharaan dan pemupukan, penyiraman per
pohon Rp10.000,-/tahun
5.
Pada saat
penanaman awal membutuhkan ajir bambu sampai umur 1,5 tahun untuk menahan
terpaan angin.
Penilaian Kualitas:
1.
Dinilai dari ukuran
dan banyaknya mukhi 1-21 (mukhi adalah belah duriannya yg tampak pada biji)
2.
Dalam bentuk buah
basah maupun biji kering, biji kering lebih tinggi nilainya. Biji dikelompokkan
dalam 11 nomor
3.
Dalam keadaan
basah, biji kelas 1 dapat digolongkan nomor 3
4.
Makin kecil ukuran
biji makin mahal (Dibutuhkan saringan untuk menyeleksi biji ganitri dalam 11
kelompok dan menghitung jumlah biji setiap kelas)
5.
nomor 1-ukuran
diameter 5 mm-adalah yang terkecil dan termahal. Nomor berikutnya setiap
kenaikan 0,5 mm.
6.
Kelas 1-9 dihargai
per butir,
7.
nomor 10 dan 11
dihargai menurut per kilogram.
Harga dalam Rupiah: a. Pada 1960 harga sebuah biji kelas 1 Rp0,5;
sekarang, Rp152. b. harga biji kelas 10
berukuran 9,5 mm mencapai Rp11.000 per kg; c. nomor 11 berukuran di atas 10 mm, Rp2.000
per kg. d. Setiap kenaikan diameter 0,5 mm, harga semakin turun. e. Harga
sebuah biji nomor 9 ukuran 9 mm- Rp10. f. Dari sebuah pohon, biji yang
termasuk kelas 1-9 tak sampai 20%.
Pengalaman Petani:
1.
8 pohon umur 4 tahun panen perdana 30 kg biji
menghasilkan 8 juta rupiah
2.
Satu pohon dapat menghasilkan Rp 250.000,- –
Rp. 1.300.000,-/musim panen plus panen susulan.
3.
Satu pohon dapat menghasilkan 350.000 biji
terdiri berbagai kelas
4.
Panen perdana 3 pohon pada April 2007. menuai
6.000 biji kelas 5, 5.000 biji (4), 3.000 biji (3), 2.000 biji (2), dan 750
biji (1). Sisanya masuk nomor 10-11. nilai Rp2,1-juta
Panen:
1.
Panen perdana satu
pohon ganitri menghasilkan Rp 250.000-Rp1,3-juta. Itu belum termasuk panen
susulan, ukuran biji yang tak seragam dari setiap pohon.
2.
Pada panen perdana
ketika pohon berumur 4 tahun, produksi mencapai 350.000 butir. Pekebun memanen
buah pada September-Februari.
Paska Panen, cara
mengupas kulit buah mengeringkan biji:
1.
Merebus buah
ganitri yang sudah tua dalam air mendidih selama 2 jam.
2.
Mengupas kulit luar
setelah melunak,
3.
Membersihkan biiji
dan menjemurnya selama 18 jam.
Penamaan
Lokal
No
|
Daerah
|
Nama Lokal
|
Keterangan
|
1
|
Indonesia
|
Ganitri, genitri, Jenitri
|
(Elaeocarpus sphaericus Schum)
family Elaeocarpaceae
|
2
|
Madura
|
Klitri
|
-
|
3
|
Jawa
|
Sambung Susu
|
-
|
4
|
Bali
|
Biji Mala
|
Dirangkai untuk menjadi Mala
|
5
|
Sulawesi Selatan
|
Biji Sima
|
-
|
6
|
Bogor
|
Katulampa
|
4 jenis yang agak berlainan
|
7
|
-
|
Mata Dewa
|
-
|
8
|
-
|
Mata Siwa
|
-
|
Negara
|
Nama
|
-
|
|
1
|
India
|
Rudraksa
|
Rudraksa-sebutan ganitri di
India-tanaman setinggi 25-30 m dengan batang tegak dan bulat berwarna
cokelat. Sepanjang tepi daunnya bergerigi dan meruncing di bagian ujung.
berasal dari kata rudra berarti Dewa Siwa dan aksa berarti mata atau Mata
Siwa
|
2
|
Amerika
|
utrasum bead
|
Bahan penelitian obat-obatan
|
Pasar
Eksport
No
|
Negara Pengeksport
|
Daerah
|
Pasokan
|
1
|
Indonesia
|
di Jawa Tengah,
Jawa Barat (Bandung-Lembang), Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Timor
|
70% dalam bentuk
butiran biji
|
2
|
Nepal
|
-
|
20%
|
3
|
India
|
-
|
5%
|
4
|
eksportir di
Jakarta
|
-
|
320 ton ganitri
sekali kirim biji ganitri harus cerah
|
5
|
Importir bahan baku
Aum Rudraksha
|
-
|
India dan Nepal.
|
Sumber: Yana Sumarna, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan, Bogor. Menurut Indian Times, setiap tahun jutaan biji rudaksa
asal Indonesia masuk ke India. Nilai transaksi diestimasi mencapai
Rp500-miliar. Kelangkaan dan tingginya kebutuhan itu memunculkan penjual
sintetis yang memperdagangkan biji ganitri sintetis.
Pelaku
Budidaya
Komari 70 tahun Cilacap 31 Desember 1925,
Desa Dongdong, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, 73 bibit
ganitri Juni 2002 Komari, menuai 30 kg buah ganitri hanya dari 8 pohon.
Rp8-juta. Saat ini terdapat 70 pekebun
Suponosentra penanaman ganitri
Desa Gadungrejo, Kecamatan Klirong, Kebumen, Jawa Tengah total penanaman 35 ha dengan
produksi per ha mencapai 1,9 ton.
Kasimun dan Jasmin sentra penanaman ganitri Desa Gadungrejo, Kecamatan Klirong,
Kebumen, Jawa Tengah membudidayakan masing-masing 18 dan 8 pohon jenis super di
lahan 1.875 m2 dan 200 m2. Panen perdana 3 pohon milik Jasmin berlangsung pada
April 2007. Ia menuai 6.000 biji kelas 5, 5.000 biji (4), 3.000 biji (3), 2.000
biji (2), dan 750 biji (1). Sisanya masuk nomor 10-11. Dari penjualan itu
Jasmin mengantongi Rp2,1-juta. Ia pun berhasrat menambah populasi pohon hingga
20 batang.
Soma Temple Bali Pengrajin mala Ekspor ke jepang, australia dan itali Pengimport
bahan baku dari india dan nepal Prof I
Nyoman Kabinawa periset Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI Yana Sumarna,
peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor Dr Suhas Roy
Benaras Hindu University meluruhkan lemak badan alkaloid yang terkandung dalam
ganitri: pseudoepi-isoelaeocarpilin, rudrakine, elaeocarpine, isoelaeocarpine,
dan elaeocarpiline. Senyawa itu berkhasiat meluruhkan lemak badan Singh RK Departemen
Farmakologi, Banaras Hindu University,
India Dwiarum Setyoningtyas Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati,
Institut Teknologi Bandung penyerap polutan. Ia membandingkan konsentrasi gas sulfur
oksida, nitrogen oksida, dan karbon monoksida dalam kotak kaca berisi tumbuhan
ganatri dengan kotak tanpa tumbuhan.
Hama dan Gangguan yang ditemui biasanya
berupa
1.
Ulat cokelat yang
makan dan bersarang di dalam batang muda. Akibatnya tanaman kering
dan mati.
2.
Patah dahan muda
bibit karena terpaan angin kencang
Mitos Mata Siwa
1.
Di Indonesia, biji
titisan Dewa Siwa itu populer dengan nama ganitri, genitri, atau jenitri.
2.
Biji-biji ganitri
keras dan awet, bisa digunakan untuk 8 generasi (Komari).
3.
Ukuran dan Setiap
biji memiliki jumlah lekukan atau mukhis berbeda. Jumlahnya
bervariasi mulai dari 1 hingga 21 mukhis yang memiliki perbedaan arti. Semakin
banyak mukhis harganya kian tinggi.
4.
JAPA =
mengulang-ulang kata suci atau bertuah atau mantra.
5.
Manasika japa
Mengulang tersebut dilakukan hanya dalam ingatan (mental) yang 2.
Upamsu japa dengan berbisik 3. Wacika japa
dengan bersuara yang terdengar maupun keras disebut, dan ada juga dilakukan
dengan gerakan atau tulisan/gambar.
Keterangan:
1.
MALA = rangkaian
biji-bijian, batu, permata, mutiara, mute, merjan, spatika, atau butiran yang
terbuat dari keramik, gelas, akar lalang, kayu, seperti kayu tulasi tulsi) dan
cendana. Kata mala juga padanan kata tasbih dan rosary. Tasbih yang utama
adalah tasbih yang terbuat dari rangkaian biji buah rudraksa.
2.
RUDRAKSA= rudra
berarti Siwa dan aksa berarti mata, sehingga arti keseluruhannya berarti mata
Siwa, yang sejalan dengan mitologinya bahwa di suatu saat air mata Siwa
menitik, kemudian tumbuh menjadi pohon rudraksa menyebar di Negeri Bharatawarsa
dan sekitarnya, Malaysia bahkan sampai ke Bumi Nusantara, yang popular dengan
nama GANITRI atau GENITRI. Dalam bahasa latinnya disebut ELAEOCARPUS GANITRUS.
3.
RUDRAKSA = adalah
buah kesayangan Siwa dan dianggap tinggi kesuciannya. Oleh karena itu rudraksa
dipercaya dapat membersihkan dosa dengan melihatnya,
bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa (Siva Purana). Sebagai sarana japa atau dapat dipakai oleh seluruh lapisan umat atau oleh ke-empat warna umat, maupun oleh pria atau wanita tua ataupun muda.
bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa (Siva Purana). Sebagai sarana japa atau dapat dipakai oleh seluruh lapisan umat atau oleh ke-empat warna umat, maupun oleh pria atau wanita tua ataupun muda.
4.
Dalam bahasa India,
rudraksa berasal dari kata rudra berarti Dewa Siwa dan aksa berarti mata.
Sehingga arti keseluruhan: mata Siwa. Sesuai namanya, orang Hindu meyakini
rudraksa sebagai air mata Dewa yang menitik ke bumi. Tetesan air mata itu
tumbuh menjadi pohon rudraksa.
Masyarakat
Pengguna/konsumen :
Agama Dunia
|
Bentuk
|
Negara/daerah
|
kaum Nasrani
|
rosario
|
Italia, Australia
dan Jepang dll
|
penganut Islam
|
tasbih
|
ke India dan Nepal.
Negara di Asia Selatan
|
Pemeluk agama Hindu
|
biji ganitri
sebagai sarana peribadatan
|
sebagai pohon
pelindung berkhasiat obat berbagai penyakit Mata Siwa Penyapu Polutan
|
Hindu Bali
|
mala alias tasbih
ganitri
|
Australia, Jepang,
dan Italia, 100 buah mala berkisar @ Rp50.000-Rp80.000
|
1.
Mala Genitri diberi
mantra agar memiliki kekuatan Dengan kekuatan itu, doa yang dipanjatkan pun
sampai ke Sang Hyang Widi.
2.
Mata terpejam
3.
Duduk bersila
4.
Pakaian putih
5.
Merapalkan doa dan
jari manis tangan kanan memutar biji mala seukuran buah kersen hingga 108 kali
(Telunjuk dan kelingking terlarang menyentuh mala)
6.
JAPA =
mengulang-ulang kata suci atau bertuah atau mantra.
a.
Manasika
japa Mengulang tersebut dilakukan hanya dalam ingatan (mental)
b.
Upamsu
japa dengan berbisik
c.
Wacika
japa dengan bersuara yang terdengar maupun keras disebut, dan ada juga
dilakukan dengan gerakan atau tulisan/gambar.
Bentuk Produk
Turunan : 1. Mala/tasbih/Rosario 2. Alat
musik dengan bentuk Genitri 3. Kalung 4. Hiasan
Patung Dewa 5. Liontin 6. dll
PERHATIAN:
Akhir-akhir ini terihat banyak produk
kerajinan yang berasal dari Ganitri/Rudraksha, tetapi sangat disayangkan tidak
didasari pengetahuan tentang fungsi dan makna rudraksha. Mohon bagi yang
melakukan pembuatan kerajinan dalam bentuk: sandal teraphy, alas duduk Jok
Mobil (kalau sandaran jok mobil mungkin dimaklumi), matras, keset dll, yang
berpotensi menyinggung umat lain (yang menghormati rudraksha tersebut).
Contoh2 yang berpotensi menyinggung
umat yang menghormati Rudraksha:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar